INILAHCOM, Kolombo - Negara anggota WHO Asia Tenggara sepakat membentuk aliran dana bersama bagi pengembangan kesiapsiagaan kedaruratan kesehatan di wilayah yang rentan bencana ini.
“Hingga saat ini, bantuan dana bencana yang mengalir lewat Dana Kedaruratan Kesehatan Kawasan Asia Tenggara telah membantu negara-negara untuk melakukan upaya tanggap kesehatan bagi kedaruratan, seperti bencana di Nepal dan Sri Lanka baru-baru ini. Jalur aliran dana yang baru akan memungkinkan negara-negara untuk melakukan investasi infrastruktur dan sumber daya manusia demi meningkatkan kesiap-siagaan,” ujar Dr Poonam Khetrapal Singh, Direktur Regional WHO untuk Asia Tenggara seperti yang dikutip dari siaran pers yang diterima INILAHCOM, Kolombo, Jumat (09/09/2016).
Pada beberapa tahun belakangan ini, gempa bumi, badai dan banjir menimbulkan kedaruratan kesehatan di Asia Tenggara. Kawasan ini juga menghadapi ancaman berbagai penyakit baru seperti SARS, MERS CoV, influenza pandemi dan virus Zika.
Pembentukan aliran dana bersama dalam Dana Kedaruratan Kesehatan Kawasan Asia Tenggara atau South-East Asia Regional Health Emergency Fund (SEARHEF) untuk meningkatkan kesiapsiagaan negara terhadap kedaruratan merupakan prioritas utama agenda kesehatan regional. Saat ini, SEARHEF hanya dialirkan jika terjadi bencana.
“Meningkatkan keamanan kesehatan merupakan komponen penting dalam misi kesehatan masyarakat kita, dan merupakan inti dari kerja WHO di kawasan Asia Tengggara. Aliran dana yang baru untuk kesiapsiagaan kedaruratan merupakan ungkapan solidaritas antar negara di wilayah ini, sekaligus gambarah pemahaman bahwa dana bagi kesiap-siagaan lebih rendah daripada dana upaya tanggap,” kata Dr Khetrapal Singh.
Resolusi lain yang dilahirkan pada kesempatan tersebut adalah bagi peningkatan aktivitas fisik di seluruh kawsan. Kurangnya aktivitas fisik adalah penyumbang utama peningkatan penyakit tidak menular di Asia Tenggara. Empat perlima remaja tak cukup beraktivitas fisik.
“Promosi efektif kegiatan fisik memerlukan komitmen tingkat tinggi, dan kepemimpinan sektor kesehatan adalah kuncinya. Dalam pertemuan regional kali ini, para Menteri Kesehatan sendiri telah menjadi teladan dalam beraktivitas fisik dan berolah raga,” tambah Dr Khetrapal Singh.
Sesi diskusi tersebut juga menetapkan resolusi penguatan sumber daya manusia di bidang kesehatan yang merupakan inti pencapaian cakupan kesehatan menyeluruh (universal health coverage-UHC). UHC adalah kunci pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, guna memastikan bahwa setiap orang mendapat akses terhadap kesehatan. Saat ini, kepadatan tenaga kesehatan di kawasan ini adalah 12.5 per 10 ribu penduduk, kurang dari saran WHO, 44.5 per 10 ribu penduduk.
“Penyebaran tenaga kesehatan di setiap bagian kawasan adalah tujuan yang ingin dicapai oleh negara-negara anggota WHO di Asia Tenggara. Namun, kita juga perlu meningkatkan kesediaan mereka untuk menetap dalam waktu lama, terutama di wilayah pedesaan, selain memberikan pelatihan bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan keterampilan mereka,” papar Dr Khetrapal Singh.
Perlu diketahui, Komite Regional Asia Tenggara WHO adalah badan pembuat keputusan kesehatan tertinggi di kawasan Asia Tenggara, yang terdiri dari para menteri kesehatan dan pejabat tinggi kementerian kesehatan di 11 negara anggota WHO - Bangladesh, Bhutan, Republik Demokratis Rakyat Korea, India, Indonesia, Maladewa, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand dan Timor-Leste.
Read more...
0 Response to "Negara Asia Tenggara Bentuk Dana Siaga Kedaruratan"
Posting Komentar